Akhir-akhir ini ada upaya pengembalian kata kasar ke ruang publik untuk mempertegasnya keburukan. Seperti contohnya koruptor diganti menjadi maling, paranormal diganti menjadi dukun, dan tuna susila diganti menjadi lonte. Apakah dalam islam hal itu diperbolehkan? Mari simak jawaban Buya Yahya dalam video ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here